Satu Dasawarsa Tanpa Perbaikan, Jalinsum Lampung Masih Gelap dan Membahayakan Pemudik

Kanallampung.com — Kondisi gelap gulita di ruas Jalan Lintas Sumatera (Jalinsum) dari Bakauheni hingga Kota Bandarlampung masih menjadi momok bagi para pemudik, terutama pengguna sepeda motor. Sekitar 95 persen Lampu Penerangan Jalan Umum (LPJU) tenaga surya jenis LED yang terpasang di sepanjang jalur arteri nasional tersebut dilaporkan tidak berfungsi.

Permasalahan padamnya lampu penerangan jalan di jalur vital ini bukanlah hal baru. Kondisi tersebut telah berlangsung selama sekitar satu dasawarsa, sejak momen arus mudik Lebaran 2017 hingga 2026.

Meski pemerintah setiap tahun menyiapkan strategi pengamanan arus mudik, aspek penerangan jalan di ruas Jalinsum dinilai masih luput dari perhatian.

Minimnya penerangan di jalur ini kerap dikeluhkan masyarakat karena dinilai membahayakan pengguna jalan, baik pengendara sepeda motor maupun mobil. Risiko kecelakaan meningkat, terutama di kawasan Tanjakan Tarahan yang dikenal sebagai “Tanjakan Maut”.

Berdasarkan pantauan teraslampung.com pada Sabtu (14/3/2026) sekitar pukul 22.30 WIB, kerusakan LPJU di sepanjang ruas Jalinsum dari Bakauheni hingga perbatasan Kota Bandarlampung disebabkan berbagai faktor, mulai dari panel surya dan aki yang rusak hingga komponen lampu yang hilang diduga dicuri. Akibatnya, banyak tiang lampu hanya menyisakan rangka besi tanpa penerangan.

Ratusan lampu jalan yang rusak tersebut tampak dibiarkan tanpa perbaikan. Para pemudik yang melintas pun terpaksa mengandalkan lampu kendaraan serta cahaya dari rumah warga dan warung di sepanjang jalur tersebut.

Tanjakan Tarahan, Titik Paling Rawan

Salah satu titik yang paling rawan berada di kawasan Tanjakan Tarahan. Minimnya penerangan di lokasi ini dinilai meningkatkan risiko kecelakaan sekaligus potensi tindak kejahatan jalanan.

Saleh, warga Kecamatan Katibung, mengatakan kondisi gelap di kawasan tersebut sudah berlangsung lama karena lampu penerangan yang terpasang banyak rusak dan sebagian komponennya hilang.

“Sudah sekitar 10 tahun lampu di sepanjang Tanjakan Tarahan mati total. Selain rusak, beberapa peralatannya juga hilang diduga dicuri,” kata Saleh kepada teraslampung.com, Sabtu malam.

Menurutnya, kecelakaan lalu lintas di kawasan tersebut kerap terjadi karena pengendara kesulitan melihat kondisi jalan, seperti tumpahan oli, lubang, maupun pembatas jalan.

“Selain kecelakaan, kondisi gelap juga sering dimanfaatkan untuk tindakan kejahatan jalanan seperti penodongan,” ujarnya.

Hal serupa disampaikan Juhari (57), warga Desa Tarahan. Ia mengatakan suasana gelap di kawasan itu membuat para pekerja yang pulang malam merasa khawatir saat melintas.

“Belum lama ini saja sudah beberapa kendaraan mengalami kecelakaan. Kondisi gelap membuat suasana di tanjakan ini terasa semakin menakutkan,” kata Juhari.

Ia berharap pemerintah segera memperhatikan kondisi penerangan di jalur tersebut, terutama menjelang arus mudik Lebaran.

“Kalau jalannya terang, tentu pengendara yang melintas malam hari akan merasa lebih aman dan nyaman,” ujarnya.

Keluhan Pemudik

Keluhan juga datang dari para pemudik. Aldi (38), pemudik sepeda motor asal Tangerang yang hendak menuju Lampung Tengah, mengaku kecewa karena kondisi Jalinsum tidak mengalami perubahan selama beberapa tahun terakhir.

“Sudah lima tahun saya mudik lewat sini naik motor, dan kondisinya masih sama saja, gelap gulita tanpa lampu penerangan jalan,” kata Aldi saat beristirahat di sebuah warung di Desa Rangai, Kecamatan Katibung.

Ia mengatakan kondisi jalan mulai gelap sejak keluar dari kawasan Pasar Bakauheni hingga wilayah Katibung. Bahkan menurutnya, kemungkinan kondisi serupa masih berlanjut hingga menuju Kota Bandarlampung.

“Kalau jalannya gelap tentu tidak nyaman. Seharusnya lampu jalan yang sudah lama mati ini menjadi perhatian pemerintah demi keamanan dan kenyamanan pemudik,” ujarnya.

Zainal Asikin