Ini Cerita Kadis Damkar Bandarlampung Mengatasi Kebakaran di TPA Sampah Bakung

TERASLAMPUNG.COM — “Saya masih tidak percaya kalau kebakaran di TPA Bakung bisa tuntas”.

Itulah ungkapan yang pertama dari Kepala Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Damkar) Kota Bandarlampung, Anthoni Irawan, saat ditemui untuk menceritakan pengalamannya menangani kebakaran di TPA sampah yang memiliki luas 14 hektare lebih berada di Kecamatan Telukbetung Barat itu.

“Jadi pengalaman luar biasa bagi saya dan kawan-kawan Damkar dalam mematikan api di Bakung itu. Karena berbeda karakternya dengan kebakaran-kebakaran umumnya, rumah atau lahan kosong,” jelasnya, di kantor Damkar Jalan Kapten Piere Tendean Bandarlampung, belum lama ini.

Menurut mantan Camat Kedamaian itu, menangani kebakaran di Bakung tidak bisa sembarangan main semprot tapi perlu mapping (memetakan) serta strategi yang tepat agar api dan asap tidak meluas.

“Karena karakternya berbeda kita perlu mapping dan strategi agar kebakaran tidak makin melebar dan asap tidak mengganggu warga sekitar. Untuk itu yang pertama yang kami tangani adalah sisi barat dari TPA itu karena berbatasan dengan pemukiman warga,” jelasnya.

Selain itu Anthoni menjelaskan untuk memadamkan api di lahan yang luas dan berkarakter seperti sampah perlu dukungan para pemangku kepentingan (stakeholder).

Kepala Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Damkar) Kota Bandarlampung Anthoni Irawan.
Kepala Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Damkar) Kota Bandarlampung, Anthoni Irawan.

“Tanpa dukungan Dinas Lingkungan Hidup, PU dan lainnya ya…susah kerja pemadam. Api di TPA itu ada di dalam sampah kalau kita semprot atasnya ya apinya tidak padam. Makanya kita butuh alat berat, pertama membuat parit-parit untuk melokalisir kebakaran. Di parit-parit itu kita semprot air, kemudian alat berat eskavator membongkar tumpukan sampah saat ditemukan bara api langsung kita semprot,” katanya.

“Kalau tidak menggunakan strategi seperti itu kita bakal kesulitan memadamkan api di sana. Dari tempat mobil pemadam jarak yang terbakar itu 20 sampai 300 meter, jadi butuh sambungan pipa yang panjang. Untuk itu kita butuh alat berat eskavator yang menggali dan setiap eskavator ada satu mobil pemadam yang mengawal, begitu muncul bara api langsung disemprot,” jelasnya.

Selama tujuh hari berada di TPA sampah Bakung, Kadis Damkar punya cerita yaitu dimulai dari mual, tidak bisa makan dan kulit melepuh.

“Hari pertama saya masih mual-mual, masuk hari kedua mulai kenalan dengan bau yang menyengat dan hari ketiga baru bisa makan di tempat tumpukan sampah,” ungkapnya sambil tertawa.

Para petugas Damkar di areal TPA Bakung.
Para petugas Damkar di areal TPA Bakung.

“‘Oleh-oleh’ dari TPA Bakung, kulit saya melepuh. Saya baru sadar bahwa tengkuk saya melepuh. Itu ketahuan setelah habis mandi, berasa agak pedih,” sambil menunjukkan tengkuknyaa yang melepuh akibat tersengat matahari.

Selain itu, dia juga mengungkapkan kekhawatiran Walikota Bandarlampung  kebakaran meluas. Juga cerita unik kebakaran menjadi berkah bagi pemulung.

“Saya selalu ada di tempat selama terjadi kebakaran. Saya selalu lapor atasan (walikota) kondisi lapangan. Kalau Bunda (Walikota Eva Dwiana) khawatir, itu wajar. Tetapi saya selalu yakinkan bahwa kebakaran ini bisa diatasi. Alhamdulilah berkat kerja keras semua pihak dan pertolongan Allah kebakaran bisa kita atasi,” ujarnya.

“Oh ya, seperti cerita kehidupan di atas, di tengah-tengah kesusahan ada keberuntungan. Selama terjadinya kebakaran, ada pemulung-pemulung meraup keuntungan yang besarnya bisa sampai Rp700 ribu/hari. Saya tahu kehidupan di sana, karena banyak ngobrol juga dengan para pemulung,” tambahnya

Kepala Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Anthoni Irawan menyarankan, ke depan di TPA sampah Bakung perlu dibangun proteksi kebakaran.

“Harus ada hidran di sana, Damkar kesulitan air untuk memadamkan api di sana, untungnya ada bantuan air dari Perumda Way Rilau, Water Canon dari kepolisian dan lainnya,” pungkasnya.

Dandy Ibrahim