Gencatan Senjata 2 Pekan: Tekanan Luar – Dalam Paksa Donald Trump Menyerah Sementara

Kanallampung.com, Bandarlampung–
Sekitar 90 menit sebelum tenggat ultimatum 48 jam dari Donald Trump berakhir, Amerika Serikat justru menyepakati gencatan senjata dua pekan dengan Iran.

Kesepakatan ini dimediasi Pakistan, dengan peran penting China yang meyakinkan Iran di menit akhir.
Prosesnya berlapis: Pakistan melobi Washington lalu menghubungi Teheran, sementara China ikut turun tangan hingga Iran menyetujui gencatan senjata dengan 10 syarat yang sementara diterima AS.

Detailnya akan dibahas dalam pertemuan di Islamabad.

Keputusan ini diambil bahkan tanpa koordinasi awal dengan Benjamin Netanyahu. Ia sempat menolak, terutama karena salah satu syarat Iran mencakup penghentian konflik dengan Hezbollah di Lebanon—yang dianggap merugikan keamanan Israel. Namun, tekanan Trump membuat Israel akhirnya ikut menerima.

Gencatan senjata ini lahir dari tekanan besar di lapangan. Secara militer dan politik, AS menghadapi kebuntuan: konflik tak kunjung menghasilkan kemenangan, dukungan domestik menurun, dan tekanan internasional meningkat. Risiko eskalasi juga tinggi, termasuk ancaman Iran terhadap jalur strategis seperti Selat Hormuz dan Bab al-Mandeb.

Di sisi lain, biaya perang melonjak, korban bertambah, dan stabilitas kawasan Teluk terguncang. Semua itu membuat kelanjutan perang semakin tidak realistis bagi Washington dan sekutunya.

Meski bersifat sementara dan rapuh, posisi Iran dinilai menguat.

Pemerintahnya tetap bertahan, program nuklir tidak lumpuh, pengaruh regional melalui sekutu seperti Hezbollah masih terjaga, dan kontrol atas Selat Hormuz tetap di tangan Teheran.

Ke depan, dua pekan ini menjadi masa krusial. AS dan Israel kemungkinan akan berupaya menekan tuntutan Iran, namun kembali ke konflik terbuka juga bukan pilihan mudah. Jalan menuju solusi permanen masih penuh ketidakpastian, dengan rivalitas Iran–Israel yang diperkirakan tetap membentuk lanskap geopolitik kawasan dalam jangka panjang.